Jadilah Pendengar yang Baik


“Komunikator yang baik adalah pendengar yang bijaksana,” begitu kata seorang teman menasehati. Tentu, bukan berarti menjadi pendengar seseorang tidak berkomunikasi. Sebab, dengan menjadi pendengar, hakekatnya ia sedang berkomunikasi.

Di tempat kita, banyak orang suka bicara tapi jarang mendengarkan. Di warung, di kampus, di kampung, di kantor sampai di Gedung DPR.

TV kita, banyak banyak menfasilitasi orang-orang yang suka bicara. Semua berbicara, sampai-sampai tak mendengarkan pendapat orang lain. Jadilah debat kusir. Kebiasaan suka bicara dalam masayarakat kita ini, sampai-sampai sering jadi gurauan. “Mengapa  perusahaan seluler laris manis di Indonesia? Jawabannya karena masyarakat kita suka bicara, jarang mendengarkan.”

                                                                      ***

Rasulullah adalah sosok manusia paripurna yang hampir sempurna dalam segala halnya. Salah satu kesempurnaannya asdalah caranya dalam melakukan dialog dan menjalin komunikasi dengan kawan maupun lawannya. Kehebatan komunikasinya itulah yang dapat “menyihir” orang sehingga tertarik, kemudian mengikuti ajran yang dibawanya.

Muhammad tentu bukan ahli sihir. Kemampuan komunikasinya bukan dari hasil praktek mistik, tapi merupakan latihan panjang dari proses mistik, tapi merupakan latihan panjang dari proses perjuannya sejak kecil. Beliau mandiri sejak usia dini, sehingga mengharuskannya bergaul dengan dunia luas. Pergaulannya menjadi sangat luas ketika beliau berdagang di usia remaja. Di sinilah kemampuan berkomunikasi itu diasah. Lebih dari itu, tentu saja Nabi mempunyai berbagai kelebihan yang bersifat mu’jizati.

Salah satu rahasia keberhasilan Rasulullah dalam berbagai dialognya adalah kesediaan beliau menjadi pendengar yang baik. Rasululllah tidak saja pandai berbicara, tapi juga pandai mendengar. Selain menjadi pembicara yang baik, beliau adalah pendengar yag sangat baik. Berikut ini kisah Rasulullah ketika berdialog dengan perunding ulung yang akhirnya takluk setelah berdialog dengan beliau.

Ketika Rasulullah sudah mulai melakukan da’wah secara terbuka, kaum kafir Quraisy gundah dan guncang hatinya. Mereka ingin membendung aktivitas da’wah Muhammad dengan segala cara. Salah satunya adalah dengan mengutus Utbah bin Rabi’ah untuk melakukan negoisasi.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Utbah duduk di sebelah Rasulullah saw seraya berkata: “Wahai anak pamanku, sesungguhnya engkau mengetahui secara pasti kedudukanmu di tengah-tengah kaummu. Engkau telah memecah-belah barisan mereka, engakau caci-maki tuhan-tuhan mereka, dan engkau kafirkan nenek moyang mereka. Karena itu dengarkanlah kata-kataku: Aku akan menyampaikan beberapa tawaran, mudah-mudahan kamu mau menerima sebagiannya.”

Rasulullah berkata: “Wahai Abl Walid, katakanlah. Aku akan mendengarnya.” Lalu Utbah bin Rabi’ah mengutarakan panjang lebar segala tawarannya. Ketika selesai, Rasulullah kembali bertanya: “Sudah selesaikah wahai Abul Walid?” Ia menjawab, “Sudah.”

Rasulullah kemudian berkata: Sekarang dengarkanlah kata-kataku. Ia pun menjawab: “Silahkan” Lalu Rasulullah membacakan beberapa ayat dari surat Fushilat. Sampai pada akhirnya beliau membaca ayat sajadah (ayat 37), dan beliau bersujud. Lengkapnya ayat itu berbunyi:

“Dan sebagian tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudklah kepada Allah yang Menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.”

Setelah itu beliau berkata kepada Utbah, engkau telah mendengarkannya dan kini silahkan temukan sikapmu. Utbah segera bangkit dari tempat duduknya, lalu pergi menjumpai teman-temannya. Sebagian dari mereka berkata: “Demi Allah, Abul Walid datang kepada kalian dengan raut muka yang berbeda dengan ketika ia berangkat.” Utbah meminta kepada mereka supaya memanggil Rasul Allah saw, akan tetapi mereka enggan. Mereka malah berkata: “Ia telah menyihirmu dengan ucapannya.”

Jika kita perhatikan percakapan antara Rasulullah dengan Utbah sungguh sangat menarik. Selaiin bobot pembicaraannya yang bagus, cara dialognya juga mempesona. Rasulullah sebagai tuan rumah terlebih dahulu mempersilahkan tamunya untuk menyampaikan maksud kedatangannya. Dengan penuh perhatian beliau mendengarkan sampai pembicara tuntas menyampaikan maksudnya. Beliau tidak memotong pembicaraan lawan bicaranya, malah beliau bertanya kepadanya, Wahai Abul Walid, apakah kamu sudah selesai?
semoga bermanfaat .. ^_^

sumber : Hidayatullah.com

Written by: Amrico Zulni
Nice Blog, Updated at: 22.43

0 comments:

Posting Komentar